Selasa, 06 Maret 2012

Humor Gus Dur


Untuk Mengenang Presiden RI yang ke-4. saya sengaja memposting humor-humor beliau. Selain itu humor ini juga sebagai obat bagi pembaca yang sedang sedih dan galau.. oke,..selamat membaca.

1.     Berdoa Sebelum Makan
Waktu Gus Dur menjabat Presiden RI, sekali waktu beliau bertemu dengan para romo (pastor) seluruh Keuskupan Agung Semarang. Dan, tak ketinggalan Gus Dur menyelipkan ceritanya. Ini pastor-pastor itu di sebuah negeri senang berburu binatang buas.
Sekali waktu, selesai misa hari Minggu, seorang pastor pergi ke hutan berburu binatang buas. Ia melihat seekor harimau. Langsung sang pastor mengokang senapannya dan menembak: “Dor – dor!” Wah, ternyata tembakannya meleset dan sang harimau balik mengejar sang pastor. Pastor segera berlari mengambil langkah seribu. Tiba-tiba si pastor berhadapan dengan jurang yang dalam. Si pastor langsung berhenti, berlutut, dan mengatupkan tangannya berdoa sebelum diterkam harimau. Berdoa sebelum mati.
Selesai berdoa, sang pastor terheran-heran karena ternyata ia masih hidup, tidak diterkam harimau. Waktu ia menoleh ke kanan, dilihatnya harimau itu berlutut di sampingnya dan berdoa sambil mengatupkan kedua kaki depannya, seperti orang Katolik mengatupkan kedua tangannya ketika sedang berdoa. Si pastor lalu bertanya kepada harimau, “Harimau, kamu kok tidak menerkam saya, malah malah kamu ikut-ikutan berdoa seperti saya. Mengapa?” Jawab harimau: “Ya, saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan!”
..ooOoo..
2.     Jawaban Ho..oh
Seorang ajudan Presiden Bill Clinton dari Amerika Serikat sedang jalan-jalan di Jakarta. Karena bingung dan tersesat, dia kemudian bertanya kepada seorang penjual rokok. “Apa betul ini Jalan Sudirman?” “Ho oh,” jawab si penjual rokok.
Karena bingung dengan jawaban tersebut, dia kemudian bertanya lagi kepada seorang Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. “Apa ini Jalan Sudirman?” Polisi menjawab, “Betul.”
Karena bingung mendapat jawaban yang berbeda, akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas bersama ajudannya. “Apa ini Jalan Sudirman?” Gus Dur menjawab “Benar.”
Bule itu semakin bingung saja karena mendapat tiga jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur lagi, mengapa waktu tanya tukang rokok dijawab “Ho oh,” lalu tanya polisi dijawab “betul” dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata “benar.”
Gus Dur tertegun sejenak, lalu dia berkata, “Ooh begini, kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah ho oh, kalau yang bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul. Sedangkan kalau yang bertanya kepada tamatan Universitas maka jawabannya benar.”
Ajudan Clinton itu mengangguk dan akhirnya bertanya, “Jadi Anda ini seorang sarjana?”
Dengan spontan Gus Dur menjawab, “Ho … oh!”
..ooOoo..
3.    Panglima AL Paraguay
Paraguay dikenal sebagai salah satu negara yang tidak mempunyai laut. Tapi anehnya, negara Amerika Latin ini punya panglima angkatan laut.Suatu ketika, kata Gus Dur, Panglima AL Paraguay ini berkunjung ke negara Brasil. Dalam kunjungan itu ia menemui Panglima AL Brasil. Salah seorang staf AL Brasil yang ikut menemuinya bertanya seenaknya, “Negara bapak itu aneh ya. Tidak punya laut, tapi punya panglima seperti Bapak.”
Dengan kalem sang tamu pun menanggapio, “Negeri Anda ini juga aneh, ya. Hukumnya tidak berjalan, tapi merasa perlu mengangkat seorang menteri kehakiman.”
..ooOoo..
4.    Cuma Takut Tiga Roda
Suatu hari, saat Abdurarahman Wahid menjabat sebagai Presiden RI, ada pembicaraan serius. Pembicaraan bertopik isu terhangat  dilakukan selesai menghadiri sebuah rapat di Istana Negara. Diketahui, pembicaraan itu mengenai wabah demam berdarah yang kala itu melanda kota Jakarta. Gus Dur pun sibuk memperbincangkan penyakit mematikan tersebut. “Menurut Anda, mengapa demam berdarah saat ini semakin marak di Jakarta Pak?” tanya seorang menterinya. “Ya karena Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso melarang bemo, becak, dan sebentar lagi bajaj dilarang beredar di Kota Jakarta ini. Padahal kan nyamuk sini cuma takut sama tiga roda…!”
..ooOoo..
5.    Syukur Tidak Bisa memanjat
Guyonan itu, rupanya, tidak berlebihan. Meski sudah banyak yang meramalkan bahwa penampilan Gus Dur di depan DPR Kamis lalu bakal ramai, toh tidak ada yang menyangka bahwa sampai seramai itu. Kalau bukan kiai, mana berani menjadikan pidato Ketua DPR Akbar Tandjung sebagai sasaran humor? 
Akbar sejak dulu memang selalu memulai pidato dengan memanjatkan syukur. Maka, Gus Dur pun melucu, yang membuat semua anggota DPR tertawa: syukur memang perlu dipanjatkan karena Syukur tidak bisa memanjat
..ooOoo..
6.     Obrolan Presiden
Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa. setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya. Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!”
Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?”
“Itu.. patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya. Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tau nggak… kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya. Presiden Indonesia: “Wah… kok bisa tau juga?” “Itu… menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Perancis tersebut. Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawa.“Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!”, teriak Gus Dur. “Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat. “Ini… jam tangan saya ilang…”, jawab Gus Dur kalem.
..ooOoo..
7.     Sate Babi
Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan        : Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur    : Babi
Ajudan        : Yang lebih haram lagi
Gus Dur    : Mmmm … babi mengandung babi!
Ajudan        : Yang paling haram?
Gus Dur    : Mmmm … nggg … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat   sate babi!
..ooOoo..
8.    Pikiran porno
Dalam suatu kesempatan Gus Dur mengeluarkan sebuah pernyataan yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menghina. Namun dengan itu bagian dari upaya Gus Dur menyampaikan joke.”Alquran itu kita suci yang paling porno. Ya kan bener, di dalamnya ada kalimat menyusui. Berarti mengeluarkan tetek. Ya udah, cabul kan?” Mungkin dengan hanya kalimat guyonan itu sebagian masih ada yang merasa diresahkan. Masa sih ulama yang terkenal wali kaya gitu? Maka, di lain waktu Gus Dur mengulangi penjelasannya dengan memilih bahasa yang lebih sopan. “Maksudnya, itu ayat jadi porno kalau yang baca lagi punya pikiran yang ngeres. Kalau nggak, ya udah. Berarti beres.” Masih nggak puas. Karenanya pertanyaan berikutnya segera menyusul. “Tapi Gus, Alquran kan bahasanya sopan?” “Betul, juga bahasa di luar Alquran banyak yang sopan. Tapi, waktu teman saya naik bus, lihat orang lagi bunting. Terus dia mbatin kenapa bisa bunting? Mendadak ‘barangnya’ (alat kelaminnya) berdiri gara-gara pikirannya itu,” jawab Gus Dur.
..ooOoo..
9.    Becak, Dilarang Masuk
Saat menjadi Presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan Mahfud MD tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik.
Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “Becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.
“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini,” bentak Pak polisi. “Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak.
“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itukan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak Pak polisi lagi.
“Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan.
..ooOoo..

10.     Membuang Presiden
Apa akibatnya kalau seorang presiden terlampau lama memegang kekuasaan? Apalagi jika ditambah seringnya ia membohongi rakyatnya sendiri? Tentu rakyat akan protes dan marah, karena menganggap presidennya telah berkhianat.
Tapi ini cerita Gus Dur tentang seorang presiden Filipina yang punya tiga orang anak. Merasa ayah mereka adalah orang nomor satu di negerinya, anak-anal sang presiden pun lantas bertingkah neko-neko. Anak kedua presiden ingin mencari popularitas dengan menyebarkan jutaan lembar uang kertas pecahan 5 peso dari sebuah pesawat terbang. Kakaknya tak mau kalah pamor. Dengan pesawat yang digunakan adiknya sebelumnya, sang kakak menyebarkan jumlah uang jauh lebih banyak dari adiknya.
Anak perempuan presiden juga ingin populer, tapi tidak mau meniru cara yang dilakukan oleh kedua kakaknya. Karena bingung, ia pun bertanya kepada pilot pesawat yang ikut menyebarkan uang bersama dua kakaknya itu. “Mas kapten, aku ingin populer seperti dua kakakku sebelumnya, tapi tindakan populer apa yang bisa membahagiakan rakyat?” “Gampang sekali: Buang saja ayah nona dari atas pesawat.”
..ooOoo..
11.     Kuli dan Kyai
Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab. Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin! Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: “Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”“Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.”
..ooOoo..

12.     Argometer Japan yang Cepat
Di luar Hotel Hilton, Gus Dur bersama sahabatnya yang seorang turis Jepang mau pergi ke Bandara. Mereka naik taksi di jalan, tiba-tiba saja ada mobil kencang banget, menyalip taksi tersebut. Dengan bangga si Jepang berteriak, “Aaaah Toyota made in Japan sangat cepat…!”
Enggak lama kemudian mobil lain nyalip juga taksi tersebut. Si Jepang teriak lagi “Aaaah Nissan made ini Japan sangat cepat.”  Enggak lama kemudian lewat lagi satu mobil menyalip mobil tersebut dan si Jepang teriak lagi “Aaaah Mitsubishi made in Japan sangat cepat…!” Gus Dur dan sopir taksi itu merasa kesal melihat si Jepang ini bener-bener nasionalis.
Kemudian, sesampainya di bandara, sopir taksi bilang ke si Jepang. Supir taksi : “100 dolar please…”
Si Jepang : 100 dolars…?! Its not that far from the hotel…!!” Gus Dur : “Aaaah… Argometer made ini Japan kan sangat cepat sekali!!”
..ooOoo..
13.     Kaum Almarhum
Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela “ideologi”nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.
Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.
“Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” Katanya.
..ooOoo..
14.    Peluru Juga Habis
Ini cerita Gus Dur tentang situasi Rusia, tidak lama setelah bubarnya Uni Soviet. Sosialisme hancur, dan para birokrat tidak punya pengalaman mengelola sistem ekonomi pasar bebas. Di masa sosialisme, memang rakyat sering antre untuk mendapatkan macam-macam kebutuhan pokok, tapi manajemennya rapi, sehingga semua orang kebagian jatah. Sekarang, masyarakat tetap harus antre, tapi karena manejemennya jelek, antrean umumnya sangat panjang, dan banyak orang yang tidak kebagian jatah.
Begitulah, seorang aktivis sosial berkeliling kota Moskow untuk mengamati bagaimana sistem baru itu bekerja. Di sebuah antrean roti, setelah melihat banyaknya orang yang tidak kebagian, aktivis itu menulis di buku catatannya, “roti habis.”
Lalu dia pergi ke antrean bahan bakar. Lebih banyak lagi yang tak kebagian. Dan dia mencatat “bahan bakar habis!”, kemudian dia menuju ke antrean sabun. Wah pemerintah kapitalis baru ini betul-betul brengsek, banyak sekali masyarakat yang tidak mendapat jatah sabun. Dia menulis besar-besar “SABUN HABIS!”.
Tanpa dia sadari, dia diikuti oleh seorang intel KGB. Ketika dia akan meninggalkan antrean sabun itu, si intel menegur “Hey bung! dari tadi kamu sibuk mencatat-catat terus, apa sih yang kamu catat?”. Sang aktivis menceritakan bahwa dia sedang melakukan penelitian tentang kemampuan pemerintah dalam mendistribusikan barang bagi rakyat . “Untung kamu ya, sekarang sudah jaman reformasi”, ujar sang intel,“Kalau dulu, kamu sudah ditembak”. Sambil melangkah pergi, aktivis itu mencatat, “Peluru juga habis!
..ooOoo..
15.    Orang NU Gila
Menggambarkan fanatisme orang NU, kata Gus Dur, menurutnya ada 3 tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” tegas Gus Dur.
Orang NU jenis yang kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU,” jelasnya.
“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh.
..ooOoo..
16.    Gus Dur Dicium Artis Cantik
Magnet sense of humor Gus Dur yang tinggi membuat kesengsem seorang artis cantik saat hadir dalam suatu acara di rumah salah seorang pengasuh Pondok Kajen, Jawa Tengah. Saking gemesnya, artis itu dengan santai langsung ngesun (mencium) pipi Gus Dur tanpa pake permisi. Jelas beberapa di antara mereka yang hadir langsung dibikin kaget dan bingung. Siapa yang kuat ngeliat kiai nyentrik cuma diem aja disun (dicium) artis cantik.
Tak lama kemudian begitu sudah agak sepi, Gus Mus yang sedang di antara mereka, langsung numpahin sederet kalimat yang sudah dari tadi cuma bisa disimpan di dalam hati.
“Loh Gus, kok Gus Dur diam saja sih disun sama perempuan?’”
Dengan santai dan.. silakan bayangin sendiri gayanya, Gus Dur malah ngasih jawaban sepele.
“Lha wong saya kan nggak bisa lihat. Ya mbok sampeyan jangan pengen….”
..ooOoo..

17.    Semua Presiden Punya Penyakit Gila
Kita masih ingat humor politik Gus Dur yang dilempar kepada Presiden Kuba Fidel Castro. Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba,Gus Dur memancing tawa saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro bahwa semua presiden Indonesia punya penyakit gila.
Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua Soeharto gila harta, presiden ketiga Habibie benar-benar gila ilmu, sedangkan Gus Dur sendiri sebagai presiden keempat sering membuat orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila.
Sebelum tawa Castro reda, Gus Dur langsung bertanya. “Yang Mulia Presiden Castro termasuk yang mana?” Castro menjawab sambil tetap tertawa, “Saya termasuk yang ketiga dan keempat.”
Namun Ketika mengunjungi Habibie di Jerman, oleh orang dekat Habibie, Gus Dur diminta mengulangi cerita lucunya dengan Castro itu. Merasa tak enak untuk menyebut Habibie benar-benar gila atau gila beneran, Gus Dur memodifikasi cerita tersebut. Kepada Habibie, dia mengatakan, dirinya bercerita kepada Castro bahwa presiden Indonesia hebat-hebat.
Kata Gus Dur, Presiden Soekarno negarawan, Presiden Soeharto seorang hartawan, Presiden Habibie ilmuwan, sedangkan Gus Dur wisatawan.
..ooOoo.
18.     Siapa yang Paling Berani
Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang “berdiskusi” tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan …
Bill Clinton: Kalau Anda tahu … prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia … Mayor .. sini deh … coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.
Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demia “The Star Spangled Banner” saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).
Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!
Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan!
Koizumi: (tak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) … coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali … !
Sersan: (melihat ada hiu … glek … tapi) for the queen I’am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali … dan dikejar hiu juga).
Sersan: (menghadap sang perdana menteri) GOD save the queen!!!
Koizumi: Hebat kamu … kembali ke tempat … Anda lihat Pak Clinton … Prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda … (tersenyum dengan hebat …)
Gus Dur: Kopral ke sini kamu … (setelah dayang …) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali … ok?
Kopral: Hah … Anda gila yah …! Presiden nggak punya otak … nyuruh berenang bersama hiu … kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden …)
Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak … Cumi Cumi … kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! … Hidup Indonesia … !!!
..ooOoo..
19.    Atlet Berlari dikejar Serdadu
Hampir tak ada negara yang rela ketinggalan mengikuti Olimpiade . Acara empat tahunan itu merupakan salah satu cara promosi negara masing-masing. Dan tentu saja , peristiwa ini juga sangat bergengsi karena acara ini diliput oleh semua media massa negara peserta. Wajarlah kalau setiap negara berusaha mengirimkan atlet terbaiknya, dengan harapan mereka bisa mendapatkan emas. Begitulah sambutan Gus Dur saat melepas tim Indonesia ke Olimpiade Sidney yang baru lalu.
Gus Dur lalu bercerita tentang peristiwa yang pernah terjadi di Suriah. Pada waktu Olimpiade beberapa tahun yang lalu, tuturnya, kebetulan pelari asal Suriah merebut medali emas. Sang pelari mampu memecahkan rekor tercepat dari pemenang sebelumnya, bahkan selisih waktunya pun terpaut jauh. Maka, dia langsung dikerubuti wartawan karena punya nilai berita yang sangat tinggi. “Apa sih rahasia kemenangan anda?” tanya wartawan. “Mudah saja,” jawab si pelari Suriah, enteng, “Tiap kali bersiap-siap akan start, saya membayangkan ada serdadu Israel di belakang saya yang mau menembak saya.”
..ooOoo..

Tunggu humor Gus Dur selanjutnya..,.:)

Kamis, 23 Februari 2012

Pendidikan Budi Pekerti

Pendidikan Budi Pekerti di Era Globalisasi
Oleh : Sukono

Abstrak :
Guru mempunyai kewajiban untuk turut melaksanakan pendidikan budi pekerti dalam setiap menyampaikan suatu materi pelajaran yang disampaikan. Pendidikan budi Pekerti sangat diperlukan dalam membentuk karakter masyarakat suatu bangsa,khususnya para generasi muda. Guru memiliki peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi pola tingkah laku siswa. Diperlukan suatu inovasi baru mengenai proses pendidikan yang memadukan kegiatan akademik dengan budi pekerti dari siswa.

Kata kunci : budi pekerti, siswa, generasi muda.

Pendahuluan

    Dewasa ini perhatian bangsa Indonesia seolah tertuju pada dinamika politik yang terus-menerus menimpa bangsa Indonesia, mulai dari kasus century hingga skandal pajak. Yang akhir-akhir ini marak diberitakan di media-media masa dan menjadi bahan pembicaraan oleh semua elemen masyarakat, dari masyarakat kelas bawah (miskin) hingga masyarakat kelas atas. Namun jangan terlena.! Fenomena “gunung es” yang lebih menentukkan arah kemajuan bangsa ini justru ada di sekitar kehidupan masyarakat itu sendiri,yakni merosotnya moral atau merosotnya budi pekerti para generasi penerus bangsa Indonesia. Generasi tersebut adalah generasi yang saat ini sedang menimba ilmu,khusunya para siswa dan mahasiswa negeri ini.
    Ungkapan bahwa remaja saat ini adalah remaja ataupun generasi yang tudak bertanggungjawab, mungkin tidak terlalu berlebihan, bahkan tidak jarang generasi sekarang adalah generasi yang manja dan minim budi pekerti. Berbeda dengan generasi jaman dahulu yang dikenal keuletannya, kerja kerasnya, namun tetap santun dalam beperilaku dan sikap. Diakui atau tidak, sekarang sangat banyak di temui remaja yang cerdas, kreatif dan kompetitif dalam akademis, namun dalam hal moral dapat dikatakan tidak sebanding dengan apa yang di sandangnya sebagai kaum akademisi yang memiliki tingkat intelegensi yang tinggi. Dengan kata lain banyak generasi yang cerdas, namun kurang memiliki budi pekerti yang baik. Bahkan pergeseran nilai moral menjurus pada degradasi akhlaq. Degradasi akhlaq ataupun degradasi moral, saat ini menjadi keprihatinan banyak pihak. Perilaku menyimpang yang di lakukan oleh para generasi sekarang yang bahkan di benarkan hanya demi alas an untuk kemajuan zaman, saat ini menggejala di hamper semua sendi kehidupan manusia. Tidak bisa di pungkiri, anak muda,remaja,para pelajar, adalah salah satu pelaku demoralisasi yang kualitasnya dari hari ke hai makin banyak bahakan tak terhitung jumlahnya. Degradasi moral bukan hal yang baru, lihat saja cara begaul dan berpakaian yang telah mengabaikan kesopanan dan nilai agama. Belum lagi bicara soal etika dan kesopanan yang nyaris menjadi “aneh” di kalangan para remaja. Saat ini sangat sulit menemukan remaja belajar agama yang benar-benar mengaplikasikannya dalam kehidupan, tetapi yang sering di jumpai remaja sekarang adalah remaja yang hobi mejeng di kafe,mal,atau menhgabiskan waktu dengan bermain playstation tanpa peduli dalam agama.
    Apa yang salah dengan system pendidikan di negeri ini? Padahal dalam pendidikan di Indonesia Terdapat mata pelajaran budi yang saat ini masih terintregasi dengan mata pelajaran Pkn, Agama maupun Pendidikan Ilmu Sosial (IPS). Dimana dalam mata pelajaran tersebut disisipi nasihat-nasihat tentang bagaimana cara berperilaku dan bertidak terhadap orang lain sesuai dengan apa yang di ajarkan menurut agama dan tata karma dan etika social dalam masyarakat. Mengapa pendidikan budi pekerti di gabung dengan mata pelajaran lain,?tentu hal ini memiliki alasan yang kuat, yaitu  karena pelajaran budi pekerti tersebut merupakan tanggung jawab semua semua guru.

 Perlunya Pendidikan Budi Pekerti bagi Generasi muda.

Pendidikan budi Pekerti sangat diperlukan dalam membentuk karakter masyarakat suatu bangsa,khususnya para generasi muda. Kepribadian bangsa adalah bentuk terakhir dari kepribadian kelompok dalam masyarakat. Maka untuk membentuk karakter suatu bangsa maka langkah pertama adalah membangun pondasi awal yang kuat melalui sosialisasi tentang budi pekerti yang baik dalam keluarga. Apabila dalam tahap awal ini pondasi yang di bangun tidak kuat maka hal ini adalah factor utama dari penyimpangan yang akan terjadi selanjutnya pada generasi berikutnya. Orang tua memiliki peran penting dalam mendidik dan mentransfer nilai-nilai moral kepada anak-anaknya sebelum sang anak tersebut mengenal dunia luar. Prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati, mungkin sangat tepat jika hal ini di kaitkan dengan peran keluarga dalam mendidik anak dan mencegahnya sebelum terlanjur masuk dalam krisis akhlak. Krisis akhlak adalah krisis hati nurani, sebab akhlak menyangkut hatinurani, maka untuk menanggulanginya harus terfokus pada hatinurani generasi muda itu sendiri.
Tidak bisa dipungkiri, di zaman sekarang sangat sulit mendidik generasi muda belajar tentang akhlak dan budi pekerti, hal ini disebabkan arus globalisasi yang semakin tak terkendali dari dunia luar. Berbagai dampak negatif dari globalisasi yang mucul dalam masyarakat sekarang ini lahir dari tidak adanya kepribadian bangsa dalam mengikuti kehidupan yang sudah terseret oleh arus globalisasi. Para generasi muda sekarang lebih cenderung mengikuti trend budaya barat, mulai dari model pakaian, bentuk rambut, hingga perilaku pun ebih condong pada dunia barat. Sebagai contohnya adalah para generasi sekarang acuh tak acuh dengan lingkungan sekitarnya, tidak tegur sapa ketika berpapasan dengan orang lain. Walaupun ini kelihatan sepele, namun ini merupakan identitas dan ciri khas bangsa Indonesia yang masih memegang adat ketimuran.
Kasus di sebuah SMP Jakarta terkuak 20 siswi di tempat itu menjual keperawanannya seharga Rp 2-3 juta. Fenomena latah hidup glamour membuat mereka gelap mata menjual harga diri untuk kepuasaan sesaat. Selain seks bebas, kasus aborsi juga sangat menonojol. Kasus aborsi di Indonesia setisp tahunnya mencapai 2,3 juta dan 30 persen pelakunya masih remaja. Data ini dirilis LSM Kita Sayang Remaja.(Majalah Merah Putih edisi XII Maret 2010).
Sungguh ironi, jika di bandingkan dengan kondisi generasi pada zaman dahulu yang di kenal ramah, sopan dan berbudi pekerti  yang tinggi dan berakhlak mulia. Berpijak dari pemikiran di atas maka di perlukan suatu inovasi baru mengenai proses pendidikan yang memadukan kegiatan akademik dengan budi pekerti dari siswa. Sehingga Pendidikan budi pekerti tidak secara khusus menjadi mata pelajaran tersendiri melainkan terintregasi dengan mata pelajaran lain, misalnya dengan mata pelajaran Pkn.maupun agama. Pendidikan budi pekerti menjadi penting artinya karena menjadi acuan untuk menentukan seorang siswa tamat atau tidak tamat. Padahal di lapangan belum ada standar penilaian yang baku. Pendidikan budi pekerti yang pada suatu saat nanti akan melahirkan generasi-generasi baru yang mampu mengelola negara dan bangsa ini dengan cara-cara yang lebih baik.

Strategi Guru Dalam Mengajarkan Pendidikan Budi Pekerti

    Mengajarkan pendidikan budi pekerti di sekolah di perlukan suatu strategi yang sesuai dengan kemajuan zaman, dan perkembangan psikologi siswa. Hal ini untuk mempermudah tersampainya materi budi pekerti kepada para siswa. Maka untuk menumbuhkan nilai budi pekerti dalam diri siswa penyampaiannya harus dalam suasana kondusif dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Disini peranan guru atau pendidik untuk mengatur kelas sangat di perlukan. Selain itu guru harus benar-benar kreatif dalam menyampaikan mata pelajaran yang akan di sisipi nilai-nilai budi pekerti. Guru harus memperoleh pengetahuan tentang apa budi pekerti dan bagaimana metode berikut sistem penilaiannya? Setidaknya acuan itu untuk menyamakan persepsi dalam mengelola pendidikan budi pekerti. Biasanya disekolah-sekolah baik itu SMP maupun SMA, pengajaran budi pekerti di ampu oleh guru BK / BP. Padahal tidak menutup kemungkinan bahwa setiap pendidik akan mengajarkan budi pekerti kepada setiap siswanya, tidak mengenal apakah guru itu  guru BK, apakah guru itu guru olah raga, ataukah mungkin guru itu guru matematika sekalipun. Itu artinya setiap pendidik/guru harus benar-benar menjadi teladan bagi siswanya terutama dalam berperilaku budi pekerti luhur.
Namun bagaimana strategi guru dalam menyampaikan pedidikan budi pekerti di sekolah? Untuk mengajarkan budu pekerti, seorang guru harus tahu dan memahami tentang apa budi pekerti tersebut. Seorang guru juga harus memiliki kepribadian yang baik di mata peserta didik, kepribadian yang baik itu misalnya guru tersebut sangat perhatian yang besar terhadap para siswanya. Bagaimanapun juga seorang peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sangat memerlukan perhatian dari seorang guru. Dimana seorang siswa akan merasa sangat nyaman jika mendapat perhatian atau perlakuan yang khusus dari sang guru. Disini peranan guru memiliki andil yang sangat besar dalam mempengaruhi pola tingkah laku siswa. Karena pada dasarnya perubahan perilaku yang dapat di tunjukan oleh peserta didik atau siswa harus di pengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh seorang guru. Mengingat tingkah laku seseorang termasuk murid kapanpun dapat berubah, maka dalam penyampaian materi tentang budi pekerti guru harus hati-hati. Oleh karena itu untuk menumbuhkan nilai budi pekerti dalam diri siswa, maka penyampaiannya harus di suasana yang kondusif dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Hal ini akan berpengaruh dalam penilaian budi pekerti itu sendiri. Untuk benar-benar menghasilkan peserta didik yang berbudu pekerti luhur, maka guru dan staf tata usaha di lingkungan sekolah harus mampu menjadi teladan insan berbudi pekerti luhur pula.
Disamping harus memiliki strategi-strategi dalam mengajarkan budi pekerti, guru  perlu mengetahui teori yang mendasari dari pendidikan budi pekerti itu sendiri. Ada tiga teori yang mendasari pendidikan budi pekerti, yaitu teori perkembangan kognitif, teori belajar sosial, dan teori psikoanalisis.
Teori perkembangan kognitif dirintis oleh Jean Pieger kemudian dikembangkan dan  Law Kohlbegr membagi enam tahap pemikiran moral.
Pertama, orientasi hadiah dan hukuman sasaran anak mulai usia tiga tahun. Jika berbuat baik diberi hadiah dan sebaliknya jika anak salah maka di beri sanksi. Hukuman atau sanksi yang di berikan kepada anak adalah sanksi yang mendidik. Kedua, disebut orientasi relativitas instrumental yang menunjukkan dominasi kepentingan dalam kesenangan sendiri. Tahap ketiga adalah orientasi anak manis, yaitu menggambarkan perilaku anak untuk menyenangkan lingkungan mereka. Di orientasi ini orang tua atau guru masuk ke dunia si anak, sehingga bisa merasakan emosi yang dirasakan si anak atau peserta didik. Tahap keempat, yaitu orientasi aturan dan ketertiban yang menunjukkan penghargaan terhadap ketertiban sosial. Tahap kelima kontrak sosial dan hak individu, yang menyatakan kepatuhan terhadap hak dan prosedurnya. Tahap keenam disebut etika universal yang berdasarkan atas hati nurani.
Teori belajar sosial berdasarkan empirisme John Locke dan behaviorism John Watson serta BF Skiner. Teori ini menganggap sosok manusia, "Ibarat kertas kosong di mana masyaratkat menuliskan pengalamananya". Masyarakat atau lingkungannya sangat multidimenional keluarga di dalamnya. Selain itu, ras, institusi, suku, adat istiadat ikut mengukirnya. Baik atau buruk ditentukan norma yang ada di lingkungan mayarakat tersebut. Sekolah dianggap sebagai mikrokosmos mayarakat, yang berperan sebagai otoritas moral.
Teori psikoanalisis dikemukakan Sigmund Freud berdasarkan atas pandangan sosok manusia dikuasai dorongan irasional yang harus dikontrol. Freud melibatkan tiga bagian, yaitu "ide" yang menunjukkan dorongan hewani, liar, "ego" menggambarkan prinsip dan kerja realita untuk mengukur tindakan. (Spirit NTT, 21-28 April 2008)
    Dengan strategi dan teori-teori yang sudah di jelaskan di atas, maka pengajaran budi pekerti akan berjalan sesuai dengan harapan yang di cita-citakan. Lebih dari itu budi pekerti yang akan diterapkan di Indonesia mengacu sesuai dengan budaya bangsa.

Penutup

Pendidikan budi pekerti sangat di perlukan dalam rangka mengatasi krisis bangsa yang sedang di alami bangsa Indonesia sekarang ini. Permasalahan yang di alami bangsa Indonesia sekarang ini lahir dari lemahnya moralitas kolektif dari masyarakat itu sendiri, terutama dsari para generasi mudanya. Dengan pendidikan budi pekerti ini maka akan melahirkan generasi-generasi baru yang mampu mengelola negara dan bangsa ini dengan cara-cara yang lebih baik.
Mengajarkan pendidikan budi pekerti di sekolah di perlukan suatu strategi yang sesuai dengan kemajuan zaman, dan perkembangan psikologi siswa. da tiga teori yang mendasari pendidikan budi pekerti, yaitu teori perkembangan kognitif, teori belajar sosial, dan teori psikoanalisis. Atas dasar teori tersebut, tentu budi pekerti yang akan diterapkan di Indonesia mengacu sesuai dengan budaya bangsa. Selain itu peranan keluarga sangat penting dalam pembentukan budi pekerti sang anak.

Daftar Pustaka

B. Uno, Hamzah. 2008. Profesi Kependidikan. Jakarta. Bumi Aksara.

Rifa’I, Achmad,RC dan Catharina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang. Unnes Press.

NTT , spirit. www.google.com/pendidikan budi pekerti/[accessed 05/ 16/ 10]

SMA Nasima. 2010. Merah Putih edisi XII . Maret . Hlm.21


Senin, 24 Oktober 2011

Teori Feminisme

1.    Feminisme liberal

Apa yang disebut sebagai Feminisme Liberal ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
Feminis Liberal memilki pandangan mengenai negara sebagai penguasa yang tidak memihak antara kepentingan kelompok yang berbeda yang berasl dari teori pluralisme negara. Mereka menyadari bahwa negara itu didominasi oleh kaum Pria, yang terlefleksikan menjadi kepentingan yang bersifat “maskulin”, tetapi mereka juga menganggap bahwa negara dapat didominasi kuat oleh kepentiangan dan pengaruh kaum pria tadi. Singkatnya, negara adalah cerminan dari kelompok kepentingan yang memeng memiliki kendali atas negara tersebut. Untuk kebanyakan kaum Liberal Feminis, perempuan cendrung berada “di dalam” negara hanya sebatas warga negara bukannya sebagai pembuat kebijakan. Sehingga dalam hal ini ada ketidaksetaraan perempuan dalam politik atau bernegara. Pun dalam perkembangan berikutnya, pandangan dari kaum Feminist Liberal mengenai “kesetaraan” setidaknya memiliki pengaruhnya tersendiri terhadap perkembangan “pengaruh dan kesetaraan perempuan untuk melakukan kegiatan politik seperti membuat kebijakan di sebuah negara”.[1]
Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf, sebagai "Feminisme Kekuatan" yang merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.
Feminisme liberal mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkab wanita pada posisi sub-ordinat. Budaya masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan individualis sangat mendukung keberhasilan feminisme. Wanita-wanita tergiring keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada pria.
Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama juga dengan laki-laki. Permasalahannya terletak pada produk kebijakan negara yang bias gender. Oleh karena itu, pada abad 18 sering muncul tuntutan agar prempuan mendapat pendidikan yang sama, di abad 19 banyak upaya memperjuangkan kesempatan hak sipil dan ekonomi bagi perempuan, dan di abad 20 organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal. Dalam konteks Indonesia, reformasi hukum yang berprerspektif keadilan melalui desakan 30% kuota bagi perempuan dalam parlemen adalah kontribusi dari pengalaman feminis liberal.

2.    Feminisme radikal

Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini menawarkan ideologi "perjuangan separatisme perempuan". Pada sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada. Dan gerakan ini adalah sesuai namanya yang "radikal".
Feminis Liberal memilki pandangan mengenai negara sebagai penguasa yang tidak memihak antara kepentingan kelompok yang berbeda yang berasl dari teori pluralisme negara. Mereka menyadari bahwa negara itu didominasi oleh kaum Pria, yang terlefleksikan menjadi kepentingan yang bersifat “maskulin”, tetapi mereka juga menganggap bahwa negara dapat didominasi kuat oleh kepentiangan dan pengaruh kaum pria tadi. Singkatnya, negara adalah cerminan dari kelompok kepentingan yang memeng memiliki kendali atas negara tersebut. Untuk kebanyakan kaum Liberal Feminis, perempuan cendrung berada “di dalam” negara hanya sebatas warga negara bukannya sebagai pembuat kebijakan sehingga dalam hal ini ada ketidaksetaraan perempuan dalam politik atau bernegara. Pun dalam perkembangan berikutnya, pandangan dari kaum Feminist Liberal mengenai “kesetaraan” setidaknya memiliki pengaruhnya tersendiri terhadap perkembangan “pengaruh dan kesetaraan perempuan untuk melakukan kegiatan politik seperti membuat kebijakan di sebuah negara”.[2]
Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. "The personal is political" menjadi gagasan anyar yang mampu menjangkau permasalahan prempuan sampai ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan. Informasi atau pandangan buruk (black propaganda) banyak ditujukan kepada feminis radikal. Padahal, karena pengalamannya membongkar persoalan-persoalan privat inilah Indonesia saat ini memiliki Undang Undang RI no. 23 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).

3.    Feminisme post modern

Ide Posmo - menurut anggapan mereka - ialah ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.

4.    Feminisme anarkis

Feminisme Anarkisme lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem patriaki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan.

5.    Feminisme Marxis

Aliran ini memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme. Asumsinya sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara produksi. Teori Friedrich Engels dikembangkan menjadi landasan aliran ini—status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaaan pribadi (private property). Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange). Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial. Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property. Sistem produksi yang berorientasi pada keuntungan mengakibatkan terbentuknya kelas dalam masyarakat—borjuis dan proletar. Jika kapitalisme tumbang maka struktur masyarakat dapat diperbaiki dan penindasan terhadap perempuan dihapus.
Kaum Feminis Marxis, menganggap bahwa negara bersifat kapitalis yakni menganggap bahwa negara bukan hanya sekadar institusi tetapi juga perwujudan dari interaksi atau hubungan sosial. Kaum Marxis berpendapat bahwa negara memiliki kemampuan untuk memelihara kesejahteraan, namun disisi lain, negara bersifat kapitalisme yang menggunakan sistem perbudakan kaum wanita sebagai pekerja.

6.    Feminisme sosialis
 

Sebuah faham yang berpendapat "Tak Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa Sosialisme". Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
Feminisme sosialis muncul sebagai kritik terhadap feminisme Marxis. Aliran ini hendakmengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Ia sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. Kapitalisme dan patriarki adalah dua kekuatan yang saling mendukung. Seperti dicontohkan oleh Nancy Fraser di Amerika Serikat keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin, sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuangan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat problem-problem kemiskinan yang menjadi beban perempuan.

7.    Feminisme postkolonial 

Dasar pandangan ini berakar di penolakan universalitas pengalaman perempuan. Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan prempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminisme poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan.”

8.    Feminisme Nordic 

Kaum Feminis Nordic dalam menganalisis sebuah negara sangat berbeda dengan pandangan Feminis Marxis maupun Radikal.Nordic yang lebih menganalisis Feminisme bernegara atau politik dari praktik-praktik yeng bersifat mikro. Kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan “harus berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan sosial negara.

Sabtu, 25 Juni 2011

Gender dan Hukum

Dalam Era keterbukaansepertisekarangini, Sistem Hukum Nasional belumlah tertata secara menyeluruh dan terpadu dengan mengakui dan menghormati hukum agama, hokum adat serta memperbaharui ataupun menyempurnakan peraturan-peraturan warisan hokum colonial maupun hokum nasional yang diskriminatif, sehingga masih dirasakan adanya Ketidakadilan Gender, kenyataan yang terjadipada proses penegakan dan penyelesaian masalah hokum terdapat keadaaan dimana kepentingan perempuan menjadi termarjinalkan, padahal sesungguhnya dalam teori hokum kepentingan tidaklah berlaku subyektif.
Mengenai hukum nasional Indonesia yang diskriminatif, pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Wanita tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan sejak 21 tahun yang lalu, tepatnya dengan UU No. 7 tahun 1984. Kemudian barulah dilakukan harmonisasi menjadi landasan hukum dari UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Yang menjadi permasalahan adalah tidak adanya konsistensi dari penegak hukum dalam upaya mewujudkan keadilan berperspektif gender, hal ini dikarenakan banyak produk undang-undang seperti pelaksanaan UU No. 23 tahun 2004 tentang KDRT yang merupakan bagian dari Konvensi Wanita hendaknya perlu dimengerti lebih dalam oleh para penegak hukum, khususnya para hakim dan memahami pula latar belakang pengertian kekerasan terhadap perempuan, sehingga hakim belum berperan dalam memutuskan perkara-perkara yang berbasis gender, selain itu agar para hakim dapat lebih berperan dalam memutuskan perkara-perkara yang berbasis gender dan  dapat lebih berperan dalam mewujudkan keadilan gender. Walaupun secara umum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah diatur mengenai penganiayaan dan kesusilaan serta penelantaran orang yang perlu diberikan nafkah dan kehidupan.
Sampai saat ini, memang belum banyak aparat hukum di Indonesia yang paham perspektif gender. Aparat hukum kita sangat terikat hokum pidana yang lebih condong melindungi pelaku, bukan korban.

Kamis, 06 Januari 2011

Gender dalam Media


A.    Televisi

Kehadiran berbagai stasiun televisi swasta di Indonesia merupakan konsekuensi logis dari era globalisasi yang tengah melanda dunia. Era yang antara lain ditandai dengan semakin luasnya hak-hak pemirsa untuk mengakses berbagai sumber informasi tersebut, telah melahirkan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi pembangunan di Indonesia.
    Era globalisasi terbukti telah membuka berbagai kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk mengikuti arus perubahan dunia secara lebih cepat. Kehadiran stasiun-stasiun televisi telah mempermudah terjadinya penyebaran informasi secara lebih merata yang pada gilirannya nanti diharapkan akan mempercepat arus perubahan sosial sebagaimana diinginkan. Pada sisi lain kita tidak dapat memandang ringan dampak negatif yang diakibatkan oleh tantangan televisi yang tidak terseleksi dengan baik. Di antara berbagai keluhan mengenai dampak buruk dari kehadiran televisi. Berbagai studi memperlihatkan bahwa iklan telah mendorong konsumerisme secara besar-besaran diberbagai lapisan kelompok umur.
     Dampak buruk iklan televisi antara lain disebabkan karena berbagai stereotipe yang diciptakan iklan itu sendiri, yang akan melahirkan semacam peneguhan (reinforcement). Gambaran keliru tersebut akan sangat meluas penggunaannya dalam berbagai bidang pembangunan termasuk upaya pemasyarakatan konsep gender yang dewasa ini tengah digalakkan. Konsep yang pada intinya menekankan pada upaya peningkatan partisipasi perempuan dalam pembangunan melalui pendekatan kemitrasejajaran laki-laki-perempuan tersebut, seharusnya memperoleh momentum melalui media elektronika TV, tetapi kenyataannya memperlihatkan gambaran yang agak berbeda; iklan televisi diduga mendorong peneguhan gambaran tentang peranan perempuan yang lebih bersifat domestik. Gambaran keliru tentang peranan perempuan tersebut secara langsung akan berbahaya bagi perkembangan anak-anak dan remaja yang mengkonsumsi iklan tersebut. Secara psikologis, anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang tengah membentuk kepribadiannya. Pembentukan kepribadian tersebut antara lain dibentuk melalui berbagai pengalaman pribadi mereka termasuk tayangan iklan televisi.
    Dalam strategi pemasaran modern, keberadaan iklan sudah menjadi tuntutan yang tidak dapat dihindari demi sebuah produk yang ditawarkan agar mendapat tempat di hati masyarakat. Dalam strategi pemasaran moderen, iklan yang tersaji dalam media massa pada umumnya dapat dianggap sebagai medium penyadaran khalayak tentang suatu produk. Permpuan adalah objek yang selama ini paling menarik untuk “digarap” oleh media. Sebuah penelitian di Amerika menunjukkan 150 lebih produk tercipta dari ujung rambut hingga ujung kaki perempuan. Sebuah studi tentang perempuan dalam iklan majalah memberikan rumusan tentang konsep citra perempuan yang muncul dalam iklan. Konsep tersebut adalah: citra pigura, citra pilar, citra peraduan, citra pinggan, dan citra pergaulan (Tomagola, 1998). Secara rinci kelima rumusan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a)    Pigura; digambarkan sebagai mahluk yang harus memikat dengan ciri-ciri biologisnya seperti: buah dada, pinggul, dan ciri-ciri keperempuanan yang dibentuk oleh budaya; seperti rambut, panjang betis, dan lain-lain.
b)    Pilar; digambarkan sebagai pilar pengurus utama keluarga; pengurus rumah tangga, dan wilayah tanggung jawabanya dalam rumah tangga. Dalam hal ini perempuan bertanggung jawab terhadap keindahan fisik rumah suaminya, pengelolaan sumber daya rumah, dan anak-anak.
c)    Peraduan; citra ini menganggap perempuan sebagai obyek seks atau pemuasan laki-laki. Seluruh kecantikan perempuan (kecantikan alamiah maupun buatan) disediakan untuk dikonsumsi laki-laki) seperti menyentuh, memandang, dan mencium. Kepuasan laki-laki adalah kepuasan perempuan yang merasa dihargai. Bagian tubuh yang dieksploitir adalah betis, dada, punggung, pinggul dan rambut.
d)    Pinggan; perempuan digambarkan sebagai pemilik kodrat, setinggi apapun pendidikannya atau penghasilannya, kewajibannya tetap di dapur.
e)    Pergaulan; perempuan digambarkan sebagai mahkluk yang dipenuhi kekhawatiran tidak memikat, tidak tampil menawan, tidak bisa dibawa ke muka umum, dll

B.Film

Perempuan masih menjadi objek sebagai suatu daya tarik, untuk melariskan suatu produk. Demikian juga film, “memanfaatkan” ataupun mengeksploitasi tubuh perempuan untuk mendatangkan suatu profit. Film boleh jadi merupakan bagian yang sangat lekat dengan keseharian kita. Informasi, hiburan dan pendidikan bisa kita dapatkan hanya dengan melalui melalui tayangan televisi atau pun film. Namun tak jarang film juga menyuguhkan tayangan yang menyesatkan. Miris sekali memang dengan kondisi ini. Lihat saja film-film remaja, seperti : Virgin, Me vs High Heels, dll, yang menggambarkan pola hidup dan pergaulan remaja Indonesia zaman sekarang. Dandanan modis serba ketat dan mini, diwarnai pergaulan remaja yang semakin bebas. Hal ini tentunya Sangat tidak sesuai dengan budaya ketimuran. Budaya masyarakat indonesia. Yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan.

  Contoh film yang berimplikasi ketidakadilan gender :

   Perempuan Berkalung Sorban

Film ini menceritakan perjuangan seorang perempuan bernama Annisa (Revalina S Temat) di pesantren Al-Huda di Jawa Timur milik ayahnya Kiai Hanan (Joshua Pandelaky) pada tahun 1984. Annisa kecil (Nasya Abigail) memiliki naluri pemberontak terhadap diskriminasi gender yang terjadi di dalam pesantren orang tuanya. Keinginannya untuk belajar menunggang kuda dan terpilih menjadi ketua kelas, justru tidak direstui disebabkan dia seorang perempuan. Annisa merasa tak nyaman dengan lingkungan pesantren dan keluarganya karena selalu menyampingkan statusnya sebagai perempuan dengan alasan syariat Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren al-Huda, Annisa memutuskan untuk melamar beasiswa di sebuah Universitas Islam di Yogyakart. Namun, Annisa mendapat garis lain dalam hidupnya yaitu masuk ke dunia pernikahan. Annisa dijodohkan dengan Samsudin (Reza Rahadian) anak seorang kiai yang membantu pesantren Al-Huda. Annisa menerima perjodohan ini dengan syarat dia diizinkan untuk meneruskan pendidikan. Sayangnya, keinginan kuat untuk sekolah itu hanya angan-angan, dunia pernikahan ternyata tidak membawanya kepada kebahagiaan. Annisa mendapatkan "neraka" kehidupan rumah tangga karena perbuatan kasar dan tekanan yang dilakukan sang suami. Tak hanya perlakuan kasar yang didapatkan, Annisa juga dipoligami, bahkan hidup satu rumah dengan istri kedua bernama Kalsum (Francine Roosenda). Annisa tak bisa berbuat apa-apa karena referensi-referensi kitab arab (Islam) klasik selalu dijadikan suami dan keluarganya untuk membungkam pemberontakan Annisa. Annisa akhirnya bercerai dengan suaminya dan memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta. Di kota ini Annisa mulai memperlihatkan bakatnya sebagai penulis. Dia bekerja di sebuah kantor konsultan dan menjadi konsultan andal. Annisa kemudian menikah dengan Khudori (teman kecilnya yang merupakan alumni al-Azhar Cairo) dan kembali ke Al-Huda dengan membawa buku-buku karyanya.Tidak lama bersuami, ia pun menjanda lagi akibat suaminya tewas karena kecelakaan lalu lintas, namun, ia tidak putus
asa. Meski di pesantren itu terdapat larangan membaca buku yang berbau dunia luar, dan komunitas pesantren membakar buku-buku atas perintah pimpinan, tapi Annisa tetap gigih memperjuangkan kesetaraan gender sampai akhirnya ia dapat membuat perpustakaan di pesantren Al-Huda. Potret Gender Unequality Setelah mencermati tayangan yang hampir berdurasi dua jam ini, paling tidak terdapat empat kategori ketidakadilan gender yang digambarkan, yaitu pertama, Underistemation. Di dalam film ini, seorang Annisa (sebagai seorang pejuang gender) tidak mempersoalkan kenapa ada manusia yang berjenis laki-laki dan perempuan, namun yang dipersoalkannya adalah mengapa persoalan biologis harus melahirkan ketidakadilan gender yang tidak pada tempatnya. Perempuan dikebiri untuk berkembang, bahkan menjadi ketua kelas sekalipun.

               Oleh: Gustia Tahir, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin 

C.  Buku / novel

    Dalam novel Perempuan Jogja karya Achmad Munif  menunjukkan bahwa; (1) marginalisasi direpresentasikan dalam bentuk pemiskinan perempuan dengan cara pelarangan untuk bekerja, serta penjualan perempuan usia muda dalam bentuk prostitusi; (2) subordinasi direpresentasikan dalam lingkup domestik (keluarga), dengan bentuk kaum lelaki bebas untuk menentukan dan memilih apa yang diinginkan baik dalam pendidikan, pekerjaan, perkawinan, dan sebagainya. Sedangkan perempuan tidak diberi kebebasan yang sama; (3) stereotipe yang ada mengindikasikan bahwa perempuan memiliki sifat penggoda, lemah, emosional, dan tidak rasional; (4) sementara kekerasan terhadap perempuan direpresentasikan dalam bentuk kekerasan fisik, mental, dan seksual

Minggu, 29 Agustus 2010

Fenomena BLT

Bab 1
Pendahuluan

1.1    Latar Belakang

    
Perubahan sosial sebagai suatu proses perubahan bentuk yang mencakup keseluruhan aspek kehidupan masyarakat, terjadi baik secara alami maupun karena rekayasa sosial. Proses tersebut berlangsung sepanjang sejarah hidup manusia, pada tingkat komunikasi lokal, regional dan global. Ini menggambarkan betapa luasnya cakupan perubahan sosial.

    Perubahan sosial adalah suatu bentuk peradaban umat manusia akibat adanya eskalasi perubahan alam, biologis, fisik yang terjadi sepanjang kehidupan manusia. Menurut Laur, 1982 (dalam Kammeyer, Ritzer and Yetman, 1990: 637-639) perubahan sosial (social change) adalah : 
“variations over time reltonships among individuals, groups, cultures and societies. Social change is pervasive; all-of social life is continually changing”
Perubahan social, sebetulnya bukan merupakan satu titk, dua titk perubahan sikap komunitas suatu masyarakat akibat berubahnya suatu tatanan masyarakat. Perubahan social bukan lagi sebagai akibat pembangunan yang sedang gencar dilakukan oleh seperangkat birokrasi pemerintah, tetapi suatu bentuk perubahan yang benar-benar menjadi keinginan organisme social dalam bentuknya yang wajar.

    Perubahan social dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, tergantung pada sudut pengamatan :apakah dari sudut aspek, fragmen atau dimensi system sosialnya.(Sztompka  2007: 3)
    Adakalanya perubahan hanya terjadi sebagian, terbatas ruang lingkupnya, tanpa menimbulkan akibat besar terhadap unsur lain dari system. System sebagai keseluruhan tetap utuh, tak terjadi perubahan menyeluruh atas unsur-unsurnya meski di dalamnya terjadi perubahan sedikit demi sedikit. Contohnya adalah adanya system atau kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah kepada masyarakat yang kurang mampu / miskin. Penggelontoran dana besar BLT itu menimbulkan tanggapan beragam. Meski pemerintah mengklaim program BLT sebelumnya tepat sasaran, namun elit politik memandangnya justru mendidik masyarakat menjadi pemalas. Dana BLT yang disediakan tahun anggaran 2008 mencapai Rp14,1 triliun untuk 19,1 juta rumah tangga miskin, sebagai kompensasi pengurangan subsidi BBM.(Abdul Choir/Indra/Andrian: robbyalexandersirait.wordpress.com).
    Terlepas dari sudut pandang bebeda dalam melihat BLT, maka dalam masyarakat tersebut tanpa disadari telah terjadi suatu perubahan, walaupun hal ini  tidak berlaku menyeluruh terhadap masyarakat. Perubahan tersebut mencakup berbagai kepentingan yang mengedepankan kepentingan masyarakat, yang akhirnya membentuk karakter masyarakat suatu Negara.

1.2    Perumusan masalah
    Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut di atas maka permsalahan dapat  dirumuskan sebagai berikut :
    Bagaimanakah fenomena BLT dilihat dari konsep perubahan sosial ?
    Apakah pengsaruh dari adanya program BLT terhadap kondisi sosial masyarakat?
    Apakah dampak positif serta dampak negatif yang ditimbulkan akibat adanya program BLT ?

Bab II
Pembahasaan

A.    Fenomena BLT dilihat dari konsep perubahan sosial


     Perubahan yang terjadi dalam masyarakat merupakan suatu gejala yang normal. Namun sekarang ini perubahan-perubahan tersebut berlangsung sangat cepat, sehingga hal ini menimbulkan kebingungan manusia yang menghadapinya. Akan tetapi karena perubahan itu berlangsung secara konstan dan terus menerus maka masyarakat akan lebih terbiasa dan mudah menerima perubahan yang sedang terjadi tersebut. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku, perubahan akan organisasi, susunan, lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan lain sebagainya Inilah yang terjadi pada fenomena BLT pada masyarakat yang kurang mampu di indonesia sekarang ini. BLT merupakan suatu kebijakan yang di keluarkan pemerintah untuk mengangkat atau mensejahterakan masyarakat miskin. Perubahan yang terjadi pada kebijakan BLT ini merupakan suatu perubahan sosial yang berasal dari aspek ekonomi dan selalu berkaitan dengan perubahan perilaku yang berasal dari aspek non-ekonomis (politik, pendidikan, dll).

    Kebijakan BLT dikatakan sebagai perubahan sosial yang  berasal dari aspek non-ekonomis (politik), karena kebijakan yang dilakukan pemerintah ini bukanlah kebijakan yang murni untuk menaikkan derajat kesejahteraan masyarakat miskin, akan tetapi hal ini juga berkaitan dengan tujuan pemerintah yang sedang berkuasa untuk mempertahankan image pemerintah yang baik di mata masyarakat. Kebijakan politis ini di perkuat dengan adanya saling klaim di antara para pejabat yang akan tampil memimpin Indonesia 5 tahun kedepan. Kebijakan pemerinth ini dijadikan sebagai tameng oleh para elit politik untuk menarik simpati serta dukungan dari rakyat, pada pemilu 2009 ini.

    Perubahan sosial dapat di proyeksikan dalam lima fenomena empirik, yang kemungkinan besar memiliki sumbangan yang cukup kuat untuk mempengaruhi perubahan sosial di indonesia. Kelima unsur perubahan sosial ini dilihat sebagai kekuatan eksternal, yang mempengaruhi dinamika aspek-aspek statik (struktural) dalam masyarakat. Kelima unsur itu dapat dirunut sebagai kekuatan eksternal, yang di akomodasi memiliki potensi penuh untuk mengubah masyarakat di negara berkembang. (1) Informasi komunikasi, (2) Birokrasi, (3) Ideologi, (4) Modal, (5) Tekonologi. Kelima unsur itu menjadi materi utama atau dapat di katakan sebagai mesin penggerak (turbin) perubahan sosial, memiliki relevansi yang sangat tinggi dalam khasanah perkembangan ilmu sosial.(Salim 2002 : 12).

    Pada kebijakan BLT, fenomena empirik yang muncul / memiliki sumbangan yang besar untuk mempengaruhi perubahan sosial pada masyarakat adalah unsur birokrasi dan modal. Pada unsur birokrasi perubahan sosial memiliki keterkaitan dan memiliki pengaruh yang berasal dari penguasa, dalam hal ini adalah pemerintah. Sehingga mau tidak mau perubahan pun di kendalikan juga  dari pemerintah. Sedangkan pada unsur modal,modal memegang peranan yang sangat penting. Modal disini meliputi modal finansial dan sumber daya manusia.
        
B.  Pengaruh program BLT terhadap kondisi sosial masyarakat

    Kebijakan BLT lahir akibat dari naiknya harga BBM yang kemudian diikuti juga oleh naiknya harga-harga sembako. Dalam perjalanannya kebijakan BLT ini mendapat respon positif dari masyarakat yang memiliki ekonomi menengah kebawah. Dalam studi perubahan sosial ada suatu perubahan yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang diperkirakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan.(Soekanto 2002 : 315). Agent of change dari program BLT adalah pemerintah, dimana pemerintah memiliki peranan yang sangat  penting untuk memberikan perubahan-perubahan pada masyarakat. Karena suatu perubahan yang dikehendaki atau direncanakan yakni kebijakan BLT, selalu berada dibawah pengendalian serta pengawasan dari pemerintah tersebut (agent of change). Namun bagaimanakah pengaruh kebijakan BLT terhadap kondisi sosial masyarakat miskin?.
     kebijakan BLT  akan memeberikan perubahan yang signifikan terhadap kondisi masyarakat miskin di Indonesia. Ini disebabkan nominal BLT yang diberikan tidak seimbang dengan kenaikan biaya hidup yang ditanggung oleh masyarakat akibat kenaikan harga BBM, dengan adanya program BLT ini beban masyarakat sedikit berkurang. Walaupun demikian sebagian besar masyarakat mendukung program pemerintah tersebut, sehingga dari sini timbul rasa bangga terhadap pemerintah yang sedang berkuasa, dengan adanya fenomena masyarakat bangga terhadap pemerintahnya maka hal ini akan berpengaruh pada pola pikir masyarakat terkait, sehingga akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah yang lain.
    Tidak dipungkiri kebijakan BLT yang di keluarkan pemerintah sedikit membawa angin segar kepada masyarakat yang kurang mampu, hal ini dapat terbukti dengan menurunnya tingkat kemiskinan yang ada pada masyarakat. Jumlah penduduk miskin Indonesia per Maret 2008, menurut Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Arizal Ahmaf, mencapai 34,96 juta orang, atau turun 16,58 persen dibandingkan jumlah penduduk miskin per Maret 2007. Penurunan harga beras menjadi salah satu faktor penyebab turunnya jumlah penduduk miskin itu. (robbyalexandersirait.wordpress.com).
    Suatu perubahan yang dikehendaki akan timbul reaksi sebagai respon positif terhadap perubahan sosial yang terjadi sebelumnya. Jika perubahan sebelumnya adalah perubahan yang dikehendaki maka perubahan yang terjadi selanjutnya adalah melanjutkan proses dari perubahan tersebut. Jika sebelumnya terjadi   perubahan yang tidak dikehendaki, maka perubahan yang dikehendaki dapat diartikan sebagai pengakuan terhadap perubahan yang terjadi sebelumnya, dan selanjutnya dapat diterima oleh masyarakat. Inilah yang terjadi pada kebijakan BLT yang dikeluarkan pemerintah yang menjadi suatu titik perubahan yang terjadi pada masyarakat.

C.  Dampak yang ditimbulkan akibat adanya program BLT

        Suatu perubahan yang berlangsung dalam masyarakat tentu akan menimbulkan suatu dampak. Baik itu dampak positif maupun dampak negatf bagi masyarakat yang bersangkutan. Begitu pula dengan adanya kebijakan BLT dari pemerintah, tentu akan menimbulkan suatu dampak.
        Kebijakan BLT ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat miskin. Dengan adanya BLT, maka beban kebutuhan masyarakat miskin akan semakin berkurang yang diakibatkan oleh kenaikan BBM maupun dampak kenaikan harga kebutuhan pokok akibat kenaikan BBM. Dengan adanya BLT juga,masyarakat akan semakin mendukung program-program pemerintah yang lain. Masyarakat akan menilai pemerintahan sekarang lebih baik daripada pemerintahan sebelumnya.
    Namun demikian kebijakan BLT ini juga memiliki dampak negatif yakni akan menimbulkan efek negative pada perilaku dan karakter masyarakat. Kebijakan ini sangat riskan menciptakan karakter masyarakat yang salalu dimanja dan menjadi bangsa peminta-minta. Menimbulkan sefek ketergantungan masyarakat terhadap dana cuma-cuma yang diberikan oleh pemerintah. Dampak negatif yang lain dari adanya kebijakan BLT adalah terkikisnya modal sosial bangsa seperti kegotongroyongan mengendur dan memicu sikap konsumerisme masyarakat. Selain itu, permasalahan efektifitas dan efisiensi kebijakan ini juga sangat diragukan, apalagi kalau kita melihat bahwa landasan kenaikan BBM adalah kondisi defisit keuangan negara yang semakin membengkak..Dilihat dari efisiensi, efektifitas dan dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan, kebijakan BLT masih jauh dari kategori efisien dan efektif dalam kerangka menyelesaikan kemiskinan atau bahkan kemiskinan baru yang ditimbulkan oleh kenaikan BBM tersebut. Karena dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya kebijakan BLT  terlalu banyak, maka timbul banyak protes mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, mahasiswa dan tokoh-tokoh masyarakat baik nasional maupun daerah. Hal ini bukan karena tidak mendukung program pemerintah  tersebut, melainkan untuk mengantisipasi dampak yang lebih buruk di masa yang akan datang.
     Kebijakan yang di keluarkan pemerintah tersebut (BLT), merupakan suatu terobosan baru yang  di lakukan pemerintah untuk mengurangi tingkat kemiskinan yang ada pada masyarakat. Kebijakan BLT ditinjau dari pola perubahan sosial adalah perubahan yang datang dari negara (state). Perubahan tersebut langsung  dikelola oleh pemerintah, sehinngga peranan pemerintah sangat kuat untuk mengendalikan perubahan yang terjadi pada masyarakat yang menerimanya.

Bab III
Penutup

A.Simpulan

    Setiap manusia maupun masyarakat selama hidup tidak terlepas dari yang namanya perubahan. Perubahan tersebut meliputi perubahan yang bersifat positif ataupun bersifat negatif, perubahan-perubahan yang pengaruhnya luas ataupun yang pengaruhnya kecil / terbatas.serta perubahan yang berlangsung cepat dan perubahan yang berlangsung sangat lambat.
Adakalanya perubahan hanya terjadi sebagian, terbatas ruang lingkupnya, tanpa menimbulkan akibat besar terhadap unsur lain dari system.. Contohnya adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Pada kebijakan BLT, fenomena empirik yang memiliki sumbangan yang besar untuk mempengaruhi perubahan sosial pada masyarakat adalah unsur birokrasi dan modal. Pada unsur birokrasi perubahan sosial memiliki keterkaitan dan memiliki pengaruh yang berasal dari penguasa, dalam hal ini adalah pemerintah. Sedangkan modal memegang peranan yang sangat penting. Modal disini meliputi modal finansial dan sumber daya manusia
BLT memberikan  dampak positif dan negatif bagi masyarakat yang menerimanya. Dampak posiif dari kebijakan BLT antara lain : beban kebutuhan masyarakat sedikit berkurang, masyarakat akan senantiasa mendukung preogram pemerintah yang pro rakyat yang lain. Dampak negatif dari kebijakan BLT antara lain : membentuk karakter masyarakat yang salalu dimanja dan memiliki mental peminta-minta, adanya efek ketergantungan pada masyarakat terhadap pemberian dari pemerintah. Terkikisnya modal sosial bangsa seperti kegotongroyongan mengendur serta gaya hidup masyarakat yang konsumtif.

B. Saran

            Melihat fenomena adanya kebijakan yang di keluarkan pemerintah,semenjak harga BBM dinaikan yakni bantuan langsung tunai (BLT),memberikan titik perubahan paradigma tentang kebijakan-kebijakan pemerintah. Paradigma baru itu adalah adanya kebijakan pemerintah yang mendukung rakyat. Karena paradigma lama sebelumnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dinilai menguntungkan satu golongan tertentu dan kurang memperhatikan masyarakat miskin.
    Walaupun kebijakan ini di khususkan untuk masyarkat miskin, namun dalam kenyataannya masih banyak masyarakat yang mampu (tidak miskin) menerima bantuan ini. Hal ini dikarenakan adanya mis komunikasi di antara birokrasi yang berwenang. Sehingga diperlukan adanya sistem birokrasi yang bersih dan profesional untuk menyelenggarakan program BLT.

Daftar pustaka

-    Salim Agus. 2002.Perubahan Sosial. Yogyakarta. PT.Tiara Wacana Yogya
-    Soekanto Soerjono.2002.Soisologi SuatuPengantar.Jakarta.Rajawali pers
-    Sztompka Piotr. 2007. Sosilogi Perubahan Sosial. Jakarta. Prenada
-    http// robbyalexandersirait.wordpress.com
           








Translate

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons